BerandaRahasia Umur 40 Tahun Manusia

Rahasia Umur 40 Tahun Manusia

Published on

spot_img

Pepadun.com, Featured – Para fuqaha berijtihad bahwa usia manusia terbagi menjadi 4 fase. Yaitu fase shabiy atau bayi, kemudian fase athfal atau anak-anak, kemudian fase syabab atau pemuda, kemudian fase kahulah atau usia dewasa, yaitu 40 tahun, dan terakhir fase syuyukh atau tua, yaitu di atas 60 tahun.

Tujuan klasifikasi umur ini adalah agar kita menjadi semakin dewasa dalam menghadapi perjalanan hidup di dunia serta mematangkan persiapan akhirat seiring bertambahnya usia.

Usia 40 tahun adalah masa yang istimewa dalam Islam, menandai kematangan akal, fisik, dan spiritual seseorang. Al-Qur’an bahkan menyebut secara khusus usia ini sebagai momentum syukur dan peningkatan ibadah. Dalam fase ini, umat Islam diarahkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan memanfaatkan usia dengan amal saleh.

Betapa seringnya kita terlena dalam menghadapi perjalanan dunia. Kita selalu percaya diri, menganggap hidup di dunia masih lama dan jauh. 

Padahal setiap manusia memiliki jatah kontrak hidup di dunia yang pasti. Kedatangannya sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahuinya. Hal ini termaktub di dalam Alquran surat Al-A’raf ayat 34, Allah SWT berfirman: Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.”

Atas dasar itu, pada kesempatan ini khatib mengajak kepada para jamaah sekalian marilah kita melakukan muhasabah berdasarkan penggalan firman Allah dalam surat Al-Ahqaf ayat 15: “Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

Ayat ini memberikan banyak nasihat kepada kita tentang makna usia 40 tahun, di mana manusia telah memasuki fase kahulah. Pada fase ini, Allah memberikan kematangan dan puncak kedewasaan dalam hal berpikir maupun tanggung jawab.

Momentum usia 40 tahun adalah titik start bagi manusia untuk kembali ke jalan Allah serta meningkatkan keseriusan memikirkan akhirat, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak.

Muaranya, akan terbangun koneksi hablun minallah yang baik. Sebab tidak ada cara lain untuk membangun jaringan akhirat kecuali dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan. Hal ini sebagaimana pesan Allah dalam penggalan surat Al-Baqarah ayat 197: “… Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

Selanjutnya, perkara yang layak kita renungkan adalah bagaimana cara membekali diri yang diridhai oleh Allah.

Tentu ibadah lahiriah tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tetapi kita harus tahu bagaimana caranya agar ibadah yang kita lakukan dapat dipanen di akhirat kelak.

Jangan sampai kita selaku makhluk yang sempurna dengan akal, kalah dengan burung yang terbang di awan. Mereka, meskipun tidak dikaruniai akal, tahu bagaimana cara beribadah kepada Allah.

Allah berfirman di dalam surat An-Nur ayat 41: “Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) tahu bahwa sesungguhnya kepada Allah-lah apa yang di langit dan di bumi dan burung-burung yang merentangkan sayapnya senantiasa bertasbih. Masing-masing sungguh telah mengetahui doa dan tasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka lakukan.”

Dan cara beribadah itu adalah sebagaimana termaktub di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15:

Yaitu bahwa setiap ibadah yang kita amalkan haruslah didasarkan pada hadirnya nilai keikhlasan yang semata-mata ditujukan kepada Allah.

Ibadah tanpa ikhlas hanya akan mendatangkan riya’, ujub, takabbur, dan berbagai keburukan yang dimurkai oleh Allah SWT.

Di dalam kitab Tanbihul Ghafilin dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW dijumpai oleh salah seorang sahabat. Ketika itu beliau dalam keadaan menangis. Sahabat tersebut lalu bertanya tentang penyebabnya.

Rasulullah menjawab bahwa sesaat yang lalu Malaikat Jibril menginformasikan bahwa Allah segan mendatangkan musibah terhadap suatu kaum selama di dalamnya ada kelompok orang yang sudah beruban tetapi hatinya tetap tertambatkan untuk selalu dekat dengan Allah. Inilah yang membuat Rasulullah menangis terharu.

Di sini, kita melihat betapa Allah memberikan sebuah apresiasi yang tinggi terhadap golongan syuyukh yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, adalah sebuah tindakan yang sangat keterlaluan jika pada fase kahulah, terlebih lagi saat masuk fase syuyukh, ternyata seorang muslim masih menjalani hidup melalaikan Allah dengan melakukan sesuatu yang tidak diridhai-Nya.

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang selalu mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah. Dan semoga segala amal ibadah kita diridhai oleh Allah SWT. Amin. (*) 

Latest articles

SMSI Lampung Sabet Penghargaan Kapolda

Pepadun.com, Bandarlampung – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Lampung raih piagam penghargaan dari...

Kenali Karakter Leadership Lewat Sikap dan Kebiasaan

Pepadun.com, Lifestyle - Seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari posisi jabatannya. Sebab, bisa saja...

Imbas Situasi Timur Tengah bagi Tarif Listrik Singapura

Pepadun.com, Mancanegara - Laman Channel News Asia (CNA), perusahaan utilitas energi milik negara Singapura...

Update Saldo Minimum Tiga Bank Himbara Per Juli 2026

Pepadun.com, Jakarta - Bank tentu menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk menabung. Selain...

More like this

SMSI Lampung Sabet Penghargaan Kapolda

Pepadun.com, Bandarlampung – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Lampung raih piagam penghargaan dari...

Kenali Karakter Leadership Lewat Sikap dan Kebiasaan

Pepadun.com, Lifestyle - Seorang pemimpin tidak hanya dilihat dari posisi jabatannya. Sebab, bisa saja...

Imbas Situasi Timur Tengah bagi Tarif Listrik Singapura

Pepadun.com, Mancanegara - Laman Channel News Asia (CNA), perusahaan utilitas energi milik negara Singapura...