Pepadun.com, Nasional – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor pada bulan Maret 2026 sebesar US$25,53. Artinya, apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY) maka ekspor nasional mencatatkan penurunan 3,1%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono membeberkan bahwa pada bulan Maret 2026, nilai ekspor migas tercatat senilai US$1,28 miliar atau turun 11,84% secara YoY. Sedangkan nilai ekspor non-migas ini tercatat turun sebesar US$2,52% dengan nilai US$21,25 miliar.
Penurunan terbesar di antaranya menurut Ateng adalah lemak dan minyak hewani/nabati termasuk crude palm oil (CPO) yang turun sebesar 27,02%. Sementara, andil komoditas ini terhadap penurunan ekspor yaitu 3,52%.
Sementara itu, kakao dan olahannya juga mencatatkan penurunan sebesar 50,89% dengan andil 0,75% terhadap total ekspor. Serta kopi teh dan juga rempah-rempah yang juga turun 54,69% dengan andil itu 0,68% terhadap total ekspor.
Apabila dilihat dari sektornya, kontribusi penurunan terbesar pada sektor non-migas adalah pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencatatkan penurunan sebesar 44,14% secara YoY dengan andil penurunan terhadap ekspor non-migas sebesar 1,09%.
Sedangkan ekspor sektor pertambangan dan lainnya serta sektor industri pengolahan mengalami penurunan masing-masing menurun sebesar 2,15% dan juga 1,26%.
Ekspor Kuartal I-2026 Masih Naik
Meski demikian, ekspor Januari hingga Maret 2026 masih mencatatkan kenaikan sebesar 0,34% dengan total ekspor mencapai US$66,85 miliar.
Dari nilai tersebut, ekspor migas tercatat sebesar US$3,25 miliar atau turun sebesar 10,58%. Sedangkan nilai ekspor non-migas tercatat naik sebesar 0,98% dengan nilai sebesar US$ 63,60 miliar.
Sementara, ekspor sektor industri pengolahan yang mencatatkan kenaikan cukup besar terutama nikel, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, minyak lapa sawit, kimia dasar organik lainnya serta juga semikonduktor dan komponen elektronik lainnya. (*)
