Pepadun.com, Mancanegara – Iran sering muncul dalam peta energi global. Namun di sektor pangan, negara ini menyimpan kekuatan lain yang jarang disorot.
Data Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau FAO menempatkan Iran sebagai salah satu produsen utama berbagai komoditas bernilai tinggi, mulai dari saffron hingga kacang premium.
Iran merupakan produsen saffron terbesar di dunia. Rempah ini dikenal sebagai salah satu bahan pangan termahal secara global.
Selain itu, Iran berada pada posisi kedua produsen pistachio dunia. Untuk komoditas kurma, madu, dan walnut, negara ini berada di kelompok tiga dan empat produsen terbesar dunia.
Sebagai catatan, saffron berasal dari bunga saffron crocus, yang merupakan bumbu termahal sebagai bahan masakan. Jika Anda ingin membeli satu ons saja, Anda akan membayar sejumlah uang terbilang mahal.
Rempah yang berasal dari bunga Crocus sativus atau dikenal saffron ternyata telah digunakan sejak zaman dahulu. Saffron dianggap memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan.
Saffron sering disebut sebagai rempah paling mahal di dunia. Itu karena dalam produksinya petani harus memanen benang halus dari setiap bunga dengan tangan mereka.
Para peneliti menilai bahwa bunga saffron mengandung banyak senyawa aktif dan beberapa kandungan, seperti protein, lemak, serat, energi, kalsium, zat besi, fosfor, kalium, dan vitamin C.
Di puncak daftar rempah termahal, terdapat saffron dengan harga sekitar US$ 2.400 per pon atau US$ 5.291 per kg. Bila dirupiahkan angkanya Rp 88,8 juta/kg (US$1=16.800).
Rempah ini sering disebut “emas merah” karena proses produksinya yang sangat rumit. Dalam satu tahun, masa panennya hanya berlangsung tiga minggu, dan dibutuhkan hingga 80 ribu bunga untuk menghasilkan satu pon saffron kering.
Iran mendominasi pasar dengan menguasai sekitar 90% produksi dunia, sementara permintaan terus meningkat dari Eropa, Timur Tengah, hingga Amerika Serikat. Tidak heran, nilainya seringkali melebihi harga logam mulia. (*)
