Pepadun.com, Kesehatan- Banyak orang mengira jenis kelamin bayi ditentukan oleh hormon sang ibu, seolah-olah tubuh ibu memiliki “tombol rahasia” untuk memilih bayi laki-laki atau perempuan.
Padahal, kenyataannya justru lebih sederhana sekaligus mengejutkan: penentu jenis kelamin janin adalah sperma ayah.
Saat pembuahan terjadi, jutaan sperma dilepaskan dan di antaranya terdapat dua jenis “pejuang”, yaitu sperma X dan sperma Y.
Sperma X membawa kromosom perempuan (XX), bergerak lebih lambat tetapi lebih tahan lama. Sementara itu, sperma Y membawa kromosom laki-laki (XY), bergerak lebih cepat namun cenderung lebih rapuh.
Jika sperma Y berhasil lebih dulu membuahi sel telur, maka bayi yang terbentuk akan berjenis kelamin laki-laki. Sebaliknya, jika sperma X yang memenangkan “perlombaan”, maka bayi akan berjenis kelamin perempuan. Proses ini ibarat pertandingan sprint biologis—siapa yang mencapai garis akhir lebih dulu, dialah penentunya.
Menariknya, kondisi tubuh ibu memang dapat memengaruhi peluang, seperti tingkat keasaman (pH) vagina yang lebih mendukung sperma tertentu. Namun demikian, keputusan akhirnya tetap berada pada sperma ayah, bukan hormon atau kondisi emosional ibu.
Dengan kata lain, ibu menyediakan lingkungan terbaik untuk pembuahan, sementara ayah mengirimkan “pemain” penentu hasilnya. Jadi, jika suatu hari ada yang berkata, “Jenis kelamin anak tergantung ibunya,” kini kamu bisa menjawab dengan yakin:
“Faktanya, yang menentukan adalah sperma ayah.”
